“Barang siapa melihatku dalam mimpi, ia telah benar-benar melihatku, karena syaitan tidak bisa menyerupai wajahku”( H.R. Bukhari).
Imam Ghazali pernah mengisahkan, ada seseorang melihat satu mahluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu ia bertanya”Siapakah kamu?”
“Aku amalan jelekmu”, jawab mahluk itu.
“Apa yang dapat menyelamatkan aku dari mu?”
“Shalawat kepada Nabi SAW, sebagaimana sabda beliau, “Shalawat itu berada di atas cahaya, di atas ash-shirat. Barang siapa yang bershalawat kepadaku pada jum’at sebanyak delapan puluh kali, Allah akan hapuskan dosa-dosanya selama delapan puluh tahun”.
Kisah lain ada seseorang yang tidak pernah bershalawat pada junjungan kita Muhammad SAW. Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu Nabi SAW. Beliau tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu dia bertanya,”Ya Rasulullah apakah Tuan marah kepada saya?”
“Tidak,” jawab Nabi SAW.
“Lalu mengapa Tuan tidak memandang saya?”
“Karena aku tidak mengenalmu”.
“Bagaimana Tuan tidak mengenal saya, padahal saya termasuk umat Tuan? Para ulama mengatakan, Tuan lebih mengenal umat Tuan daripada seorang ibu mengenal anaknya”.
“Mereka benar, tetapi engkau tidak mengingatku dengan shalawat. Sebab aku mengenal umatku menurut kadar shalawat mereka kepadaku”.
Setelah terbangun, orang itu mewajibkan dirinya selalu bershalawat kepada nabi SAW seratus kali setiap hari. Selang beberapa waktu ia bermimpi lagi bertemu Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Kini Aku mengenalmu dan aku memberikan syafa’at kepadamu, karena engkau telah menjadi pecinta Rasul”.
Al-Kisah: No.09/24 April-7 Mei 2006
Baca Juga:
biografi-habib-munzir-al-musawa
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Doa, Hadits, Kabar berita, Khazanah, Kisah, Sosok, ibadah






Akhi, agama ini adalah kumpulan dari sejumlah keputusan-keputusan Alqur’an dan Sunnah, maka setiap yang diasumsikan agama harus memiliki sandaran argumentasi yang shahih dari kedua petunjuk tadi.
jika kita bergeser dari kedua petunjuk tersebut, ana kawatir agama ini akan terus mengalami perubahan-perubahan, sehingga bentuk aslinya menjadi samar dan hilang.
keterangan dari Alqur’an dan Sunnah sudah sangat cukup bagi kita, sehingga kita tidak lagi memerlukan keterangan-keterangan agama dari mimpi firasat dll, lebih-lebih jika berbeda dengan ketetapan Alqur’an dan Sunnah.
anan sarankan agar antum merujuk kepada hadits yang shohih tentang: apakah ada ketetapan jumlah tertentu dalam membaca shalawat seperti dalam mimpi?
yang abang mahya katakan emang benar, mimpi emang tidak bisa di jadikan dasar hukum syariah. tetapi bukan berarti semua mimpi itu kembang tidur, bahkan ada mimpi dari sahabat nabi yang akhirnya dijadikan hukum, yaitu mimpinya sayyidina umar tentang masuknya waktu sholat, beliau bermimpi diajari oleh seseorang bagaimana caranya memanggil orang-orang untuk sholat yaitu dengan adzan (seperti yg sekarang), saat sayidina umar melaporkannya kepada rasul, beliau SAW menyetujuinya dan meminta kepada bilal untuk melakukan adzan ketika masuk waktu sholat dan mimpi ini bukan hanya dialami sayidina umar, sebelum melaporkan ke rasulullah sudah ada salah seorang sahabat melaporkannya bahwa beliau juga bermimpi yang sama.
Soal ketetapan berapa jumlah Sholawat yang harus kita baca memang tidak ada batasannya harus berapa. Di dalam kisah diatas dia mewajibkan dirinya sendiri membca 100x sholawat setiap hari (hanya untuk dirinya saja, dia tidak menyuruh orang lain untuk melakukan hal yang sama). Memang tidak ada anjuran berapa bilangan sholawat yang harus kita baca, namun bukan berarti tidak boleh bila kita membaca dengan bilangan tertentu. Allah menciptakan bilangan dan memakainya untuk hambaNya ketika beribadah, Sholat wajib Allah memerintahkan 5x sehari, 5 itukan bilangan. Dzuhur 4 rakaatnya, 4 juga bilangan.
Bersholawat dalam jumlah tertentu boleh-boleh saja, tidak ada harus sekian-harus sekian lebih banyak tentu lebih baik.
Alloh dan para malaikat saja bersholawat pada nabi kenapa kita sebagai umatnya malah jadi diperhitungkan.
Jangan lupakan shalawat, karena bila kita lupa berarti kita telah melupakan seseorang yang telah menunjukkan kita kejalan yang lurus yaitu Nabi Muhammad Saw. bila kita telah melupakan shalawat berarti kita telah melupakan dan keliru dari jalan yang seharusnya kita tempuh menuju sorga.
Membaca sholawat untuk nabi artinya mendoakan nabi.
Kalau menyanyikan doa apa ada perintahnya?
Kalau merayakan kelahiran (maulid) nabi disuruh membayangkan beliau datang. Bagaimana jk membayangkan bertemu beliau kemudian beliau bertanya ‘Siapa yg menyuruh antum mencukur jenggot?’ (hr At-Thabrani)
Apa jawaban antum kepada beliau?