قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ، فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّام
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling dengki dan iri, dan jangan pula saling memusuhi, jadilah bersaudara sesama hamba Allah, dan tiadalah halal bagi muslim untuk memutus hubungan / memusuhi saudara muslimnya lebih dari tiga hari” (Shahih Bukhari)
Doctor Albert Benson dari fakultas kedokteran di Universitas Harvard menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Setelah ia mempelajari cara untuk membawa kedamaian dan ketenangan bagi manusia. Belasan tahun ia mempelajari dan mencari, ia menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Apa penemuannya? Tidak pernah ada kedamaian yang ia temukan bisa mendamaikan seorang manusia, ketenangan hatinya kecuali dengan iman kepada Allah. Dan tidak pernah ada kedamaian yang mencapai hebatnya orang yang beriman kepada Allah dibanding iman kepada apapun selain-Nya. Mengingat air terjun yang indah, mengingat gunung yang indah, mengingat kekasih, mengingat kenikmatan, apapun yang ia perbuat untuk mencapai kedamaian, belum ada satu metode yang mereka temukan terkecuali kedamaian itu sangat memuncak ketika manusia mengingat Allah.
Hadirin – hadirat, maka ia menyebutkan (doctor Albert Benson) dari Universitas Harvard bahwa keturunan Adam memang telah dicipta untuk hanya taat dan beriman kepada Allah, yang dengan itu tenanglah jiwanya, yang dengan tenang jiwanya maka tenanglah seluruh tubuhnya dan ketenangan seluruh sel tubuhnya. Demikian indahnya penemuan itu membuka Keluhuran Ilahi dan Allah sudah berfirman “alaa bidzikrillah tathma’innulquluub” dengan mengingat Allah maka tenanglah sanubarinya. (QS. Ar-Rad : 28.)
Wahai jiwaku dan jiwa kalian yang sering diombang – ambingkan dalam gelombnag kehidupan, dalam limpahan kenikmatan hingga terjebak pada kekufuran dan tidak bersyukur atau kepada kesusahan hingga terjebak pada tidak taat kepada Allah dan kufur.
Belum lagi, Allah terus mengombang – ambingkan keturunan Adam (agar mereka mencari kekuatan dan ketenangan Nya swt), namun ketika jiwanya telah menyimpan aura kekuatan terbesar di alam semesta yaitu Allah Jalla Wa Alla, maka ia akan sabar dengan apapun yang terjadi, tidak akan bisa mengecohnya karena jiwanya bersama Allah Jalla Wa Alla. Kalau sudah jiwa dan sanubarinya bersama Allah, mengingat Allah, dalam kemuliaan Allah, maka ia dalam lindungan benteng kekuatan Allah Jalla Wa Alla.
Rasul saw bersabda sebagaimana hadits yang kita dengar diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, beliau saw “la tabaghadhu, wala tahasadu, wala tadabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyamin” janganlah kalian saling membenci.., kata Sang Nabi saw. Kenapa? Kita akan perjelas nanti. Karena perbuatan manusia itu akan membawa kerusakan di dunia dan akhirat. “la tabaghadhu, wala tahasadu..” janganlah kalian saling benci dan saling dengki. Lihat saudara kita mendapat kenikmatan jangan dengki dan iri, karena Yang Maha Memberi masih tetap memberi dan bisa memberi. “..wala tadabaru..” jangan saling membelakangi. Tadaabaru itu maksudnya adalah orang yang ketika jumpa dengan saudaranya muslimin buang muka, atau lebih ringkasnya ialah jangan bermusuhan.
“..wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” dan tidak dihalalkan bagi saudara muslim untuk bermusuhan lebih dari 3 hari. Sebelumnya Sang Nabi mengatakan “..wa kuunuu ibaadallahi ikhwanan” jadilah kalian sesama hamba Allah itu bersaudara, sesama muslimin itu bersaudara, persaudaraan yang lebih erat daripada persaudaraan pertalian darah. Karena kalau persaudaraan pertalian darah kalau wafat terpisah, tapi kalau saudara seiman, wafat lalu hidupnya di alam barzah dan di akhirat tidak akan pernah terpisah. Semakin kita menyambung hubungan silaturahmi dengan manusia, sesama iman, sesama muslimin – muslimat, maka Allah Swt akan semakin menyambung Kasih Sayang-Nya kepada kita. Semakin seseorang tidak memiliki kebencian kepada orang lainnya, makin indah hidupnya di dunia dan akhirat.
Para ilmuwan dalam penemuan mutakhirnya menemukan satu penemuan yang menakjubkan bahwa ketika seseorang itu marah atau timbul sifat benci didalam dirinya maka terpancarlah dari dalam tubuhnya hormon – hormone stres, hal itu menimbulkan tuntutan sel sel otot yang ada di jantung akan oksigen yg berlebihan,Marahnya seseorang atau bencinya ia pada sesuatu atau benci pada orang lainnya maka itu akan menyebabkan lepasnya hormon – hormon tersebut dan jika itu terjadi akan membuat kebutuhan yang berlebihan atas oksigen pada otot – otot jantungnya, dan oksigen itu tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Berbeda dengan orang yang berlari, jantungnya berdebar cepat tapi tubuhnya bergerak. Tapi kalau tubuhnya tetap diam saja hingga benci dan kemarahannya yang muncul maka jantungnya berdebar dengan keras yang mengakibatkan otot pada jantungnya membutuhkan oksigen yang lebih banyak dan ini tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Lantas apa yang terjadi setelah itu? Itu menyebabkan pengentalan keping – keping darah pada jantung. Apa yang akan terjadi setelah itu? Itu menyebabkan sering terjadinya serangan jantung. 60% serangan jantung terjadi pada orang yang sering marah dan sering benci kepada orang lainnya.
Dan penemuan yang lebih menakjubkan, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Para ilmuwan di Amerika, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Mereka merasa ringan sakitnya ketika memaafkan orang yang menyakiti mereka. Ini penemuan dengan jelas, selaras dengan sunnah Sayyidina Muhammad Saw. “la tabaaghadhu, wala tahaasadu, wala tadaabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” janganlah kalian saling membenci, jangan saling memusuhi. Sang Nabi saw memahami, karena dalam setiap tuntunan beliau itu tersimpan kesejahteraan dan kesehatan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat. Semakin sirna seseorang dari membenci orang lainnya makin ringan semua penyakitnya, semakin jauh dari serangan jantung. Demikian hebat sunnah Muhammad Rasulullah Saw. Orang yang paling pemaaf, ialah Sayyidina Muhammad Saw.
Allah Swt telah menjadikan kemuliaan pada jiwa yang dipenuhi cahaya Ilahi maka jiwa itu akan sulit dendam kepada siapapun. Demikianlah jiwa Sayyidina Muhammad Saw. Jiwa yang dipenuhi kekuatan Ilahi akan berpengaruh kepada apapun yang ada didekatnya. Sebagaimana penemuan Prof. Masaru Emoto dari Jepang, yang telah sering kita dengar bahwa air itu bereaksi dengan emosi orang yang ada di hadapannya. Kalau orang yang dihadapannya marah – marah maka jika air itu dilihat dengan mikroskop dengan skala tertentu akan berubah menjadi buruk bentuknya. Dan ketika orang yang ada di hadapannya tenang maka air itu berubah menjadi lebih indah jika dilihat dengan skala tertentu di mikroskop. Ini jiwa yang tenang, lebih – lebih lagi jiwa yang dipenuhi Cahaya Allah. Ini berlaku bukan hanya pada air tapi berlaku untuk alam semesta. Bahkan merubah hal – hal hina menjadi hal yang mulia, sebagaimana firman Allah didalam hadits qudsiy riwayat Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) “humul julasaa’ laa yasyqaa bihim jaliisuhum” orang yang duduk bersama orang – orang yang berdzikir, walaupun niatnya bukan untuk berdzikir, dia mendapatkan pahala dan kemuliaan. Kenapa? Karena bersama orang yang berdzikir. Air bisa bereaksi dengan jiwa yang ada di hadapannya. Demikian pula dengan alam semesta ini.
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Hadits, IPTEK, Kabar berita, Kesehatan, Khazanah, Kisah, Sosok, ibadah






Subhaanallah, ternyata ajaran islam memang sudah sempurna…Allahu Akbar
Hmmm benar sih, tapi setahu saya universitas harvard belum ada fakultas kedokteran karena memang mereka universitas yang memfokuskan diri pada ilmu sosial, kalaupu yang berbau eksak palingan fakultas farmasi ataupun fakultas teknik. Sumbernya please….